Kisah:
Di Boston era Puritan, Hester Prynne keluar dari penjara sambil menggendong bayi dan mengenakan huruf A merah menyala (scarlet). Dia menolak menyebutkan nama ayah anak tersebut dan membangun kehidupan di pinggiran pemukiman, diawasi oleh komunitas yang ingin menjadikannya sebagai pelajaran. Sementara itu, sang ayah yang menyembunyikan identitasnya dan suami Hester yang terasing membawa rahasia masing-masing, dan hukuman publik menyebar menjadi rasa bersalah dan dendam pribadi.
Sorotan Bacaan:
Hawthorne menyebut buku ini sebagai roman, dan simbol-simbol di dalamnya berperilaku lebih misterius daripada bukti dalam persidangan yang realistis. Huruf tersebut, panggung hukuman, hutan, dan Pearl berubah makna seiring perubahan karakter. Pembaca diajak bukan sekadar untuk mengecam kemunafikan, tetapi untuk bertanya siapa yang memiliki otoritas untuk mendefinisikan dosa dan apakah tanda publik dapat merangkum kehidupan pribadi.
Disutradarai oleh Roland Joffé; Amerika Serikat; dibintangi oleh Demi Moore, Gary Oldman, dan Robert Duvall. Versi Hollywood yang terkemuka ini secara terbuka menampilkan dirinya sebagai pengerjaan ulang yang lebih bebas dari kisah Hawthorne.
Perbedaannya dengan buku:
Film ini memperluas romansa antara Hester dan Dimmesdale, menambahkan aksi dan konflik dengan karakter Penduduk Asli, dan mengganti akhir cerita Hawthorne dengan resolusi yang sangat berbeda.
Cara memilih edisi pembaca:
Putuskan apakah Anda menginginkan The Custom-House, sketsa pengantar yang substansial dari Hawthorne: banyak edisi lengkap menyertakannya, sementara beberapa edisi kelas langsung dimulai dengan Hester. Catatan kaki dapat memperjelas sejarah Puritan dan referensi alkitabiah. Terjemahan harus menjaga perbedaan antara narasi sejarah dan roman simbolis daripada meratakan prosa tersebut menjadi sekadar kisah cinta terlarang yang sederhana.
Diterbitkan pada tahun 1850, The Scarlet Letter mengukuhkan Nathaniel Hawthorne sebagai novelis besar Amerika. Leluhur New England-nya termasuk hakim-hakim Puritan, dan buku ini mengubah sejarah warisan tersebut menjadi sebuah penyelidikan alih-alih perayaan. Dengan menyebut karyanya sebagai roman, Hawthorne memberi dirinya ruang untuk menggabungkan sejarah yang tampak seperti arsip, tekanan psikologis, simbolisme, dan ambiguitas supranatural yang menandai banyak fiksi karyanya.
Miva, cara membaca setelah buku audio
Dengarkan seperti buku audio, lalu tanyakan apa saja, kapan saja
Mulai narasi MivaMiva tidak hanya membacakan. Miva terus menjelaskan sesuai pertanyaanmu.