Klasik Pintu Masuk yang Mengubah Legenda Hantu Jepang Menjadi Sastra Dunia
"Kwaidan: Stories and Studies of Strange Things" adalah kumpulan kisah hantu Jepang paling representatif dari tahun-tahun terakhir Koizumi Yakumo. Karya ini memuat kisah-kisah seperti "Hoichi Tanpa Telinga", "Wanita Salju", "Jikininki", dan "Aoyagi", serta mencakup "Studi Serangga" tentang kupu-kupu, nyamuk, dan semut. Versi Project Gutenberg ini mempertahankan teks bahasa Inggris tahun 1904, memperlihatkan bagaimana Yakumo merajut kembali buku-buku kuno, legenda lokal, dan kisah yang didengarnya secara langsung menjadi prosa yang halus, terkendali, dan berkesan mendalam. Kisah-kisah ini bukanlah sekadar cerita hantu yang menakutkan, melainkan menyatukan karma Buddha, sejarah tragis keluarga samurai, kepercayaan rakyat, persepsi alam, dan pandangan tentang kematian ke dalam suasana malam yang sama, membuat pembaca merasa bahwa hantu bukanlah anomali, melainkan bentuk ingatan dan emosi yang belum beristirahat.
Koizumi Yakumo, lahir dengan nama Patrick Lafcadio Hearn pada tahun 1850 di Lefkada, Yunani, dari ayah seorang ahli bedah militer keturunan Irlandia dan ibu dari pulau Kythira, Yunani. Di masa mudanya, ia berpindah-pindah antara Irlandia, Inggris, dan Prancis. Pada usia 16 tahun, mata kirinya buta, dan pada usia 19 tahun, ia pergi sendirian ke Amerika Serikat, di mana ia menjadi terkenal di Cincinnati, New Orleans, dan Martinique melalui penulisan berita, observasi cerita rakyat, dan penulisan lintas budaya. Setelah tiba di Jepang pada tahun 1890, ia mengajar dan menulis di Matsue, Kumamoto, Kobe, dan Tokyo. Pada tahun 1896, ia menikah dengan Koizumi Setsu dan menjadi warga negara Jepang dengan nama Koizumi Yakumo, hingga wafat pada tahun 1904. Kehidupan Yakumo yang berpindah-pindah, latar belakang blasteran, dan sensitivitasnya terhadap budaya marginal membuatnya sangat memahami kemiripan antara "tanah asing" dan "hantu": keduanya berkelana di antara yang akrab dan yang asing, yang hidup dan yang mati, yang modern dan yang kuno.
Buku ini sangat terkait erat dengan kehidupan penulisnya. Yakumo tidak memperlakukan kisah hantu Jepang sebagai materi yang aneh (eksploitasi keunikan), melainkan menggunakan jarak seorang pendatang, rasa kehilangan akar akibat perpindahan keluarga, dan daya observasi seorang jurnalis untuk membentuk kembali atmosfer cerita rakyat Jepang. Ia sering menyisakan kekosongan dan hal yang tak terjelaskan dalam ceritanya, tidak terburu-buru menggunakan rasionalitas untuk melenyapkan hantu, tetapi membiarkan pembaca merasakan realitas psikologis tentang "bagaimana orang yang pernah percaya melihat dunia". Jika dianalogikan dengan karya modern, "Kwaidan" dapat dibaca berdampingan dengan literarisasi pengetahuan yokai oleh Natsuhiko Kyogoku, sensasi dunia lain dalam celah keseharian novel Haruki Murakami, serta panggilan terhadap spiritualitas kuno dan kekaguman pada alam dalam karya Hayao Miyazaki. Dalam konteks sastra dunia, narasinya juga mendekati cara Neil Gaiman menceritakan kembali mitos dengan lembut namun penuh bayang-bayang yang panjang.
Miva, cara membaca setelah buku audio
Dengarkan seperti buku audio, lalu tanyakan apa saja, kapan saja
Mulai narasi MivaMiva tidak hanya membacakan. Miva terus menjelaskan sesuai pertanyaanmu.