Il Principe (Sang Pangeran), ditulis pada tahun 1513 dan diterbitkan secara anumerta pada tahun 1532, bisa dibilang merupakan risalah politik paling berpengaruh dalam sejarah Barat. Karya ini memutus tradisi berabad-abad dengan secara tegas memisahkan politik dari etika. Sebelum Machiavelli, para pemikir seperti Aristoteles dan Cicero memandang politik sebagai cabang dari moralitas; Machiavelli mendefinisikannya kembali sebagai keahlian teknis yang berfokus semata-mata pada perolehan dan pemeliharaan kekuasaan (lo stato).
Karya ini berfungsi sebagai buku panduan praktis bagi "pangeran baru"—seorang penguasa yang telah merebut kekuasaan dan harus menstabilkan rezim tanpa keuntungan dari tradisi turun-temurun. Machiavelli mengganti kebajikan Kristiani konvensional dengan konsep *virtù*-nya sendiri: perpaduan antara kecerdikan, kemanjuran, dan kekuatan "buas". Ia secara terkenal berpendapat bahwa seorang penguasa harus menjadi "singa" untuk mengusir serigala dan "rubah" untuk mengenali jerat. Perjuangan sentral dalam buku ini adalah konflik abadi antara *virtù* manusia ini dan *fortuna*, sungai keberuntungan yang tak terduga dan deras yang mengatur separuh dari urusan manusia.
Risalah ini dirayakan karena kejujurannya yang mengejutkan, terutama klaim bahwa "jauh lebih aman untuk ditakuti daripada dicintai," karena cinta adalah ikatan kewajiban yang diputuskan oleh kepentingan pribadi, sedangkan ketakutan dipertahankan oleh "kegentaran akan hukuman yang tidak pernah meninggalkan Anda." Terlepas dari reputasinya sebagai "manual bagi tiran," para sarjana memperdebatkan niat sebenarnya. Beberapa orang, seperti Rousseau, memandangnya sebagai satir yang dimaksudkan untuk mengungkap kejahatan para pangeran kepada rakyat; yang lain melihatnya sebagai "lamaran kerja" yang putus asa kepada keluarga Medici.
Pada akhirnya, *The Prince* mewakili kelahiran realisme politik. Buku ini menyarankan bahwa meskipun seorang pangeran harus tampak saleh dan bermoral, ia harus siap untuk "masuk ke dalam kejahatan" ketika kebutuhan menuntut. Ia tetap menjadi sebuah "klasik" bukan karena saran spesifiknya membangun kekaisaran—memang, Cesare Borgia, contoh utama kebajikan Machiavelli, akhirnya hancur oleh nasib—tetapi karena ia memberikan perspektif yang jujur dan tanpa moralitas tentang kondisi manusia yang terus mengejutkan dan mempesona lima abad kemudian.
Miva, cara membaca setelah buku audio
Dengarkan seperti buku audio, lalu tanyakan apa saja, kapan saja
Mulai narasi MivaMiva tidak hanya membacakan. Miva terus menjelaskan sesuai pertanyaanmu.