Der Sandmann adalah salah satu narasi paling terkenal dari Romantisme Jerman dan diterbitkan pada tahun 1816 dalam kumpulan Nachtstücke. Novela ini dianggap sebagai karya kunci literatur fantastis serta pendahulu awal sastra horor psikologis dan ketakutan yang mencekam. Inti dari cerita ini adalah pertanyaan tentang betapa tidak pastinya batas antara realitas, imajinasi, dan kegilaan.
Alurnya mengikuti seorang mahasiswa bernama Nathanael yang sejak masa kecilnya dihantui oleh sosok "Si Tukang Pasir". Si Tukang Pasir awalnya adalah sosok menakutkan dari dongeng anak-anak yang konon mencuri mata anak-anak yang tidak patuh. Namun bagi Nathanael, sosok ini terhubung dengan pengacara misterius Coppelius, seorang kenalan ayahnya yang kelam, yang dalam ingatan Nathanael dikaitkan dengan eksperimen alkimia dan kematian ayahnya. Bertahun-tahun kemudian, Nathanael bertemu dengan pedagang alat cuaca Coppola dan percaya bahwa ia mengenali pria menyeramkan yang sama di dalam dirinya. Sejak saat itu, persepsinya tentang kenyataan mulai hancur.
Yang sangat penting bagi narasi ini adalah hubungan Nathanael dengan Olimpia, putri Profesor Spalanzani. Nathanael jatuh cinta padanya dengan penuh gairah, meskipun dia tampak sangat pendiam, kaku, dan mekanis. Belakangan terungkap bahwa Olimpia bukanlah manusia, melainkan robot buatan (automaton). Penemuan ini akhirnya menghancurkan stabilitas mental Nathanael dan menuntunnya pada kegilaan dan kematian.
Hoffmann memadukan fantasi romantis dengan ketidakpastian psikologis dalam Der Sandmann. Novela ini mengangkat tema ketakutan akan kehilangan identitas diri, ancaman teknologi dan manusia buatan, serta kekuatan ingatan masa kecil yang tertekan. Motif mata secara khusus memainkan peran sentral, karena melambangkan persepsi, pengetahuan, dan kerentanan psikologis.
Narasi ini memperoleh pengaruh besar melalui esai Sigmund Freud tahun 1919, Das Unheimliche (The Uncanny). Freud menafsirkan Der Sandmann sebagai contoh sastra klasik untuk konsep "Yang Uncanny", yaitu perasaan ngeri yang muncul ketika sesuatu tampak akrab sekaligus asing di saat yang bersamaan. Hal ini menjadikan novela tersebut sebagai salah satu karya yang paling banyak didiskusikan dalam sejarah sastra Eropa.
Hingga hari ini, Der Sandmann memengaruhi sastra, opera, film, dan estetika horor. Narasi ini menginspirasi antara lain balet Coppélia karya Léo Delibes, opera Les Contes d’Hoffmann karya Jacques Offenbach, serta berbagai karya modern tentang manusia buatan, kegilaan, dan kecemasan psikologis.
Miva, cara membaca setelah buku audio
Dengarkan seperti buku audio, lalu tanyakan apa saja, kapan saja
Mulai narasi MivaMiva tidak hanya membacakan. Miva terus menjelaskan sesuai pertanyaanmu.